Sabtu, 21 November 2009

Menjadi Farmasis Profetik


Dalam profesi farmasi, dikenal istilah seven star pharmacist, sebuah pedoman karakter seorang farmasis dalam menjalankan profesinya, dengan menjunjung tinggi nilai-nilai luhur profesi kefarmasian. Namun kondisi praktek profesi farmasi di lapangan memperlihatkan fenomena yang berbeda. Salah satu penyebabnya mungkin dikarenakan krisis keteladanan. Tanpa menafikan bertaburannya profesi farmasi yang berdedikasi pada tugasnya, adalah sebuah kenyataan bahwa krisis keteladanan adalah salah satu krisis yang tengah menimpa.

Kita sangat membutuhkan seorang figur teladan untuk diikuti. Seorang penulis terkenal, Michael H Hart, menempatkan Nabi Muhammad pada posisi

pertama dalam daftar tokoh-tokoh berpengaruh sepanjang sejarah. Maka seorang farmasis sebenarnya dapat pula mengambil pelajaran dari keteladanan nabi. Menjadi seorang farmasis profetik (prophet = nabi), farmasis yang meneladani nabi dalam menjalankan profesinya. Ketika dikaitkan dengan pedoman seven star pharmacist, maka keteladanan nabi adalah mata air keluhuran yang menyimpan pelajaran-pelajaran yang dapat digali.

1. Leader

Farmasis harus memiliki karakter seorang pemimpin. Kepemimpinan sangat berkaitan dengan kesadaran akan arti diri, dan penetapan tujuan bersama. Bagaimana membawa kelompok yang dipimpin untuk mencapai tujuan bersama. Nabi Muhammad adalah teladan. Dalam bimbingan nabi, bangsa Arab mencapai posisi yang tidak pernah dicapai sebelumnya. Tekad yang kuat dalam mencapai tujuan, dibingkai langkah-langkah strategis, membimbing ummat menuju kecemerlangan dalam mencapai tujuan. Keteguhan tekad dalam mencapai tujuan. Karakter itu yang mutlak harus dimiliki

seorang pemimpin.

2. Decision Maker

Farmasis harus dapat mengambil keputusan dengan bijak, tepat dan cepat. Pengambilan keputusan memerlukan kemampuan untuk memahami persoalan dengan utuh, menentukan keputusan di antara pilihan-pilihan, serta ketegasan setelah menetapkan

keputusan. Di tengah-tengah situasi genting, dengan banyak alternatif, farmasis harus dapat mengambil keputusan dengan baik. Nabi Muhammad memberi contoh. Keputusan beliau menyelesaikan sengketa batu Kabah membawa kepuasan bagi semua pihak. Sebuah keputusan cerdas yang membawa semangat

win-win solution.

3. Communicator

Farmasis harus memiliki kemampuan komunikasi yang baik. Komunikasi yang baik harus mencakup perkataan yang jelas dan ringkas. Memberikan konsultasi, informasi dan edukasi dengan cara yang bijak. Salah satu kemampuan komunikasi yang penting adalah kemampuan mendengar. Mendengar untuk mengerti, mengerti kondisi

pasien sepenuhnya. Nabi Muhammad memberi contoh. Ucapan-ucapan beliau adalah ucapan yang ringkas, tetapi tetap jelas. Beliau sering mengulangi perkataannya hingga tiga kali untuk memastikan bahwa pendengarnya benar-benar memahami apa yang beliau sampaikan.

4. Teacher

Farmasis harus mendidik calon farmasis atau farmasis muda. Pembinaan pada penerus harus terus dilakukan. Regenerasi profesi farmasi adalah sesuatu yang harus berjalan. Bagaimana membimbing dan mengarahkan calon farmasis dalam mengembangkan diri.

Nabi Muhammad merupakan teladan. Ia adalah seorang pendidik yang mampu mengelaborasi potensi-potensi para sahabat menjadi prestasi-prestasi puncak.

Mengembangkan potensi generasi muda sesuai bakat dan kecenderungan masing-masing.

5. Long Life Learner

Farmasis harus senantiasa mengembangkan sikap mencari ilmu sepanjang hayat.

Mengikuti perkembangan ilmu kefarmasian. Meningkatkan pengetahuan dan keterampilan. Semangat untuk terus belajar seumur hidup. Nabi Muhammad sangat menekankan hal ini. Beliau senantiasa menganjurkan pengikutnya untuk senantiasa giat mencari ilmu. Menyemangati bahwa orang-orang berilmu ditinggikan derajatnya. Bahwa ilmu yang bermanfaat adalah aset yang abadi.

6. Care Giver

Farmasis harus memberikan pelayanan dan perhatian kepada sesama. Mengembangkan sikap altruis dalam menjalankan profesi. Meningkatkan Quality of Life masyarakat. Mengedepankan aspek sosial daripada aspek bisnis dalam berprofesi. Nabi Muhammad memberi contoh. Perhatian dan kasih sayangnya begitu melimpah. Bagaimana tidak, risalah yang dibawanya adalah untuk seluruh alam, bukan cuma manusia, tapi hewan dan tumbuhan dan yang lainnya. Hari-harinya dipenuhi kerja keras meringankan beban sesama.

7. Manager

Farmasis harus memiliki kemampuan manajerial yang baik dalam mengelola beragam sumber daya yang tersedia. Bagaimana menempatkan seseorang pada posisi yang sesuai dengan potensinya. Bagaimana mengatur perencanaan pengadaan inventaris. Bagaimana mengatur skala prioritas dalam pengaturan jadwal kegiatan. Nabi Muhammad menunjukkan teladan. Beliau menempatkan orang-orang yang tepat pada

posisi yang sesuai. Dalam kesehariannya yang dipenuhi berbagai agenda, beliau masih sempat bercengkerama dengan keluarganya, seperti berlomba lari suatu ketika dengan istrinya. Ini tentu menunjukkan bahwa manajemen waktu nabi telah menempatkan semua kegiatan pada skala prioritas yang tepat sehingga semua dapat terlaksana tanpa ada yang dikorbankan. Menjadi farmasis profetik, meneladani Nabi Muhammad dalam menerapkan pedoman seven star pharmacist. Sehingga farmasis menjadi profesi yang dapat memberi manfaat bagi seluruh alam (rahmatan lil alamin), membawa dunia ini ke arah yang lebih baik. Semoga.

disadur dari tulisan (Fajar Ramadhitya Putera, S.Si, Apt)

Senin, 16 November 2009

My Blog My experience……


Banyak hal yang ingin kuceritakan tentang fenomena alam yang kutemui, tentang hikmah yang berserakan namun berhasil ku ambil dari episode kehidupanku, tentang apa yang kupikirkan, hanya ingin berbagi diblog ini.

sketsa kehidupan yang kusaksikan sering memberikan pelajaran bagaimana menjadi lebih bijaksana dalam hidup yang sebentar ini. ….


ketika kelak kutinggalkan dunia fana ini, blog inilah warisanku, semoga apa yang tertuang di dalamnya bisa menginspirasi siapapun dalam membangun peradaban yang lebih baik.

AAI,,,momen inovasi dan koreksi diri

Mengharap senang dalam berjuang

Bagai merindu rembulan di tengah siang

Arah jalan tak seindah sentuhan mata

Jalannya jauh ujungnya belum tiba

Tapi jalan kebenaran

Tak akan selamanya sunyi

Ada ujian yang datang melanda

Ada perangkap menunggu mangsa

Sepenggal bait dari nasyider, tapi sayang saya lupa namanya yang berjudul sepotong hati. Lagu ini sebenarnya saya dengar sejak SMA di TPI tiap pagi sebelum program acara di chanel tersebut dimulai sambil bersih-bersih dan menyiapkan diri ke sekolah. sebelumnya saya juga tidak tahu artinya lagu itu, cuma senag aja mendengar dan menyayikan di sela aktivitas pagi hari. Akhirnya Sejak kuliah,, dan semakin sering dengar nasyid, barulah tahu makna dari lagu itu….

Satu kata…inspiratif …

kalo nggak percaya,,, resapi, pikirkan dan kaupun akan mengerti…

postinganku kali ini tentang hikmah perjalanan di AAI (Asistensi Agama Islam). Alhamdulillah tahun ini, saya di beri kesempatan jadi salah satu pengelola AAI fakultas. Terutama dalam hal kurikullum. Sebelum menerima ladang ini. Saya pernah berpikir, kenapa saya selalu ada di bidang yang berkaitan dengan media dan tulisan,? Mulai saat ikut training kepenulisannya pak yusuf(gimana ya,,kabar beliau sekarang??), terus jadi M.O KMMF, ikut lomba-lomba tulis,, hingga sekarang ada di kurikulum AAI. Tapi saya coba berpikir positif, mungkin inilah potensi saya yang tidak ditemukan semasa SMA. Boleh dikata, waktu SMA saya ilfill dengan namanya bidang tulis menulis, Karya ilmiah remaja(KIR) atau jurnalistik. Justru lebih senang dengan kegiatan jalan-jalan, studi Tour, camping, dan naik gunung. Boleh dibilang agak tomboy, tapi alhamdulillah, opu (panggilan bapak) tidak melarang.

Loh…kok semakin jauh dari inti ceritanya??

Yup yup...kita kembali ke jalan cerita utama........

AAI tidak terlepas dari akademik fakultas, sehingga arah gerak AAI jangan sampai melenceng dari misi fakultas(kata salah satu dosen ternama di farmasi). Begitupun sepengggal kisah dan hikmah perjalananku di AAI. Kadang- kadang tekanan itu perlu agar kita bisa lebih inovatif dan memperhatikan kinerja kita kembali. Itulah mungkin yang kualami dan teman- teman pengelola AAI tahun ini. Jika menilisik ke masa sebelumnya, dimulai saat kami diloby menjadi pengelola oleh kakak kelas hingga membuat rancangan AAI dan kurikulum dan tetap berlangsung hingga sekarang. Terus tenag kadang kami kesulitan untuk mengonsep, mentransfer ke teman sejawat, dan berkonsultasi dengan dekanat. Sehingga tak jarang kritikan, tekanan mewarnai kinerja kami. Sebenarnya kadang ada rasa sedih, kecewa, namun tidak berlangsung lama, selalu saja ada spirit baru yang timbul, ide ide baru yang muncul, dan yang terpenting ilmu yang semakin bertambah. Terutama ketika ke pihak dekanat, saya mulai memaknainya dengan moment menjemput ilmu. Seringkali diberikan ilmu baru dan kiat bagaimana menjadi asisten yang baik, mendidik orang lain. Sehingga momen tersebut menjadi momen evaluasi untuk mengoreksi kinerja dan membuat kami lebih kompak lagi dalam menjalankan program....

Saya semakin sadar bahwa mendidik umat memang bukan perkara gampang, tidak cukup dengan pemberian materi tetapi kita tidak mengerti peran kita disana, hanya sekedar menjalankan kewajiban tapi tidak punya taste atau soul,, kalo kata pak sampurno (dosen manajeman Farmasi), tidak punya distingtivness. Padahal umat yang kita didik adalah pemimpin masa depan, generasi penerus pembangunan dan juga penerus perjuangan di jalan kebenaran. Kayak kata pak Sampurno lagi,,ibaratnya AAI ini adalah metode atau strategi untuk mempertahankan dan mengembangkan intanggible aset dari islam itu sendiri. Mendidik umat diperlukan niat yang ikhlas, kepedulian dan profesionalitas. Apalagi calon farmacist, Karena profesional merupakan point penting untuk berkarya di masyarakat. Saya penah baca buku berinisial RD, disitu dinyatakan kritikan, celaan adalah keniscayaan dalam amar ma’ruf nahi mungkar. Hal tersebut penting, agar kita kembali memperbaiki niat, dan mengoptimalkan ikhtiar dibandingkan pujian, pengharagaan atas kinerja kita karena hal tersebut dapat membuat terlena, menimbulkan kemalasan dan membuat kita kurang kreatif...

Satu hal lagi hikmah yang dapat diambil, Allah maha penentu kejadian. kadang apa yang kita rencanakan tidak terjadi, ternyata Allah berkehendak lain. Mungkin ada rasa sedih , kecewa dan putus asa. Tapi dengan cara itulah Allah mendidik kita agar lebih baik lagi melalui ucapan orang lain. Selain itu,makna dari sebuah tim akan lebih terasa, ada saja teman yang berpikir lebih objektif, kita diajak berpikir jangka panjang, menenangkan diri kembali dan tentu saja mencari ide yang lain. Ibaratnya jika nasi sudah menjadi bubur, sisa kita tambahkan bawang goreng, daun soup, tempe goreng agar terasa enak.

Teruntuk seperjuanganku di AAI, jazakumullah khairan katsiran...

Terima kasih atas dukungan teman-teman, terimaksih atas ukhuwahnya selama ini

Semoga Allah menguatkan kita di jalanNYA....

Make Health, Stop Merokok

Kesehatan merupakan aset utama manusia untuk menjadi manusia produktif. Seseorang tidak akan mampu melakukan suatu kegiatan dengan baik dan optimal jika dalam keadaan sakit. Kesehatan manusia dapat dibedakan menjadi 4 aspek yaitu sehat jasmani, sehat rohani, sehat sosial, dan sehat ekonomi.

Sehat jasmani merupakan manifestasi dari tubuh dan pikiran yang sehat. Sehat rohani yaitu memiliki hubungan yang baik secara spiritual dengan sang pencipta, contohnya mampu melakukan segala perintah sang pencipta dan menjauhi segala larangannya. Hasilnya ditandai oleh adanya ketenangan batin dalam setiap aktivitas. Sehat sosial yaitu mampu bergaul, menempatkan diri dan bermanfaat bagi lingkungan dan orang-orang disekitarnya. Sedangkan sehat ekonomi yaitu mampu memenuhi kebutuhan hidup dirinya dan tanggung jawabnya seperti kebutuhan sandang, pangan dan papan anak dan istri. Keempat aspek tersebut saling berkaitan dan jika salah satunya terganggu maka kesehatan yang dirasakan tidaklah seimbang. Keempat aspek kesehatan tersebut merupakan modal agar hidup dapat bahagia dan tentram.

Pada zaman sekarang, kondisi masyarakat Indonesia jauh dari hal tersebut. Kemiskinan, biaya kesehatan yang mahal, dan hedonisme adalah beberapa faktor penyebabnya. Padahal setiap manusia berhak untuk merasakan kesehatan dan wajib menjaga kesehatannya sebagai bentuk rasa syukur kepada sang Pencipta. Untuk itu, diperlukan tekad dan usaha agar hal tersebut dapat ditanggulangi. Mungkin kita tidak perlu melakukan hal yang besar, kita bisa memulainya dari diri kita sendiri, dari hal-hal yang kecil. Salah satunya dengan cara menghindari rokok atau stop merokok. Mengapa rokok? Lets check it out!

Sejak dulu, rokok telah diklaim oleh ahli kesehatan sebagai perusak tubuh manusia. Hal ini tidak terlepas dari zat-zat beracun yang terkandung didalamnya dan kerugian moril maupun materil yang diciptakannya. Dengan kata lain, seorang perokok jauh dari kondisi sehat. Kita bisa melihat dari keempat aspek kesehatan yaitu:

  1. Sehat jasmani. Seorang perokok bukan hanya merugikan tubuhnya sendiri tetapi juga merugikan orang-orang sekitarnya yang turut menghisap rokok atau lebih dikenal dengan perokok pasif. Baik perokok aktif maupun perokok pasif, keduanya memiliki resiko menderita penyakit ringan sampai dengan ganas. Merokok dapat berbahaya bagi setiap organ tubuh manusia. Beberapa penyakit yang dapat timbul akibat merokok yaitu abdominal aortic aneurysm, acute myeloid leukemia, cataract, cervical cancer, kidney cancer, pancreatic cancer, pneumonia, stomach cancer, bladder, esophageal, laryngeal, lung dan oral cancers, chronic lung diseases, coronary heart and cardiovascular diseases, as well as reproductive effects dan sudden infant death syndrome. Selain itu, rokok mengandung lebih dari 4000 senyawa kimia dan sekurang kurangnya 400 senyawa toksik. Senyawa-senyawa toksik utama dari rokok yaitu tar (karsinogen), Nikotin (zat addiktif dan meningkatkan level kolesterol pada tubuh), serta karbon monoksida yang mampu mereduksi oksigen pada tubuh karena berikatan dengan hemoglobin. Walaupun dari penampakan luar seorang perokok kelihatan sehat bugar, tapi dia tidak meyadari telah melakukan penumpukan racun dalam tubuhnya sendiri. Sungguh sangat mengerikan bukan?? seorang perokok dapat menjadi langganan penyakit berbahaya. Selain itu, bayi yang lahir dari seorang ibu merokok selama kehamilan sebanyak 2 kali layaknya lahir secara premature dan dengan bobot tubuh yang lebih rendah. Anak-anak yang tumbuh di rumah dimana salah satu atau kedua orang tuanya merokok memiliki dua kali resiko asma, dan asma bronkitis.

  1. Sehat rohani. Rokok mengandung nikotin yang bersifat adiktif atau membuat ketagihan. Setiap agama tentu saja mengajak pada kebaikan. Beberapa wujud dari sehat rohani adalah mampu melakukan ibadah dengan khusyuk, memenuhi perintah Tuhannya, tidak merampas hak orang orang lain dan dirinya sendiri. Sehat secara rohani tidak dapat tercapai jika seseorang masih merokok. Mana mungkin ibadah akan khusyuk jika sedang melakukan ibadah terdapat asap rokok, pikiran pun tidak fokus akibat membayangkan kenikmatan dari rokok dan ingin segera menghisapnya. Selain itu, asap rokok dapat menganggu aktivitas pernapasan orang lain, bukankah itu sama halnya dengan mengambil hak orang lain?
  2. Sehat sosial. Rokok perlu dihentikan karena berakibat buruk bagi kesehatan perokok itu sendiri juga dapat menimpa orang-orang di sekitar kita. Saat ini, bukan hanya orang dewasa, anak-anak usia sekolah pun sudah banyak yang merokok. Hal tersebut dapat terjadi karena pengaruh orang-orang yang merokok disekitarnya, serbuan media dan iklan rokok baik melalui media cetak maupun media elektronik. Anak usia sekolah merupakan aset dan generasi penerus bangsa. Apa jadinya jika kesempatan mereka untuk menimba ilmu, mengasah kreativitas terganggu oleh penyakit-penyakit ganas yang menimpa mereka di usia muda? Bangsa Indonesia juga yang akan merasa rugi. Selain itu dengan menghindari rokok maka kita tidak menyebarkan polusi udara.
  3. Sehat ekonomi. Di Indonesia harga rokok berkisar diantara Rp.5000-Rp.10.000 per bungkus. Coba kita prediksikan, jika dalam seminggu, seseorang menghabiskan satu bungkus rokok, maka dalam sebulan pengeluarannya berkisar antara Rp. 20.000-40.000, setahun dapat mencapai Rp.240.000- Rp.480.000 hanya untuk rokok. Apalagi untuk pecandu rokok kelas berat pengeluarannya bisa lebih besar dari pada itu. Padahal, dana tersebut dapat menjadi modal untuk kebutuhan hidup yang lebih menguntungkan, misalnya untuk biaya sekolah anak, berwirausaha atau untuk mencukupi kebutuhan hidup baik primer maupun sekunder. Selain itu, jika seseorang sakit akibat efek buruk rokok seperti menderita asma atau bahkan kanker, maka biaya yang ditanggung akan lebih besar. Mungkin hal tersebut tidak menjadi masalah yang berarti bagi orang kaya, tapi bagaimana dengan orang miskin, untuk biaya hidup saja sudah sangat berat, apalagi ditambah biaya kesehatan. Hal ini, dapat memicu seseorang untuk melakukan tindakn kriminal karena beban hidup yang semakin berat.

Melihat efek buruk bagi kesehatan dari rokok, seyogyanya kita berusaha untuk menghindarinya. Apalagi sebagai civitas akademika dalam bidang kesehatan, kita seharusnya memberi contoh bagi masyarakat mengenai pola hidup sehat dan turut andil dalam mewujudkannya. Untuk itu, mari menjaga kesehatan, membuat dunia lebih aman dan tentram dengan stop merokok.

Posting Lama

Blogger Template by Blogcrowds